me

me

Senin, 03 Oktober 2011

Contoh tragedy of the commons ”Pemakaian Dispenser Di Tempat Kontrakan”



      Ini sebuah cerita tentang tragedy of the commons yang ada di dalam kontrakan ku sendiri. Jadi kontrakan ku itu adalah sebuah rumah yang berisi 6 kamar. Bedanya dengan kos- kos an. Kontrakan itu memiliki penghuni yang relative sudah kenal dan akrab sebelumnya. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri.  Hal di atas penting saya ceritakan untuk memberikan gambaran kondisi sebuah kontrakan , terutama kontakana saya. Yang di dalamnya tentu berisi sebuah benda yang menjadi permasalahan dalam cerita ini yaitu dispenser.
      Dispenser sangat di butuhkan untuk keperluan minum sehari - hari para penghuni kontrakan. Namun yang menjadi permasalahan, berapa banyak dispenser yang di gunakan di dalam kontrakan? Sebenernya untuk kebutuhan minum sehari – hari hanya di butuhkan satu buah dispenser saja. Tapi karena setiap penghuni kontrakan menginginkan sesuatu yang lebih memudahkan diri kami masing-masing. Maka kita semua mengambil inisiatif untuk memiliki dispenser sendiri-sendiri. Dan hasilnya dalam satu kontrakan saya itu ada 6  buah dispenser.
        Tentu saja hal itu sangat berimbas pada banyak hal. Seperti naiknya tagihan pembayaran listrik. Anggap saja masing – dispenser itu menghabiskan daya 100 watt. Maka untuk memenuhi kebutuhan minum saja di perlukan 600 watt perhari. Apalagi kalau dispenser itu di standby kan setiap hari secara terus menerus. Tagihan yang biasanya enam puluh ribu perbulan ( Rp 60.000 ) sebelum semuanya menggunakan dispenser sendiri-sendiri, berubah menjadi di atas seratus ribu rupiah ( Rp 100.000 ) perbulannya. Tentunya kenaikan ini akan merugikan semua penghuni kontrakan. Karena kita semua harus memberikan uang patungan atau urunan lebih besar dari pada biasanya. Apalagi itu menunjukan pemborosan dalam penggunaan listrik nasional. Belum lagi kebutuhan air gallon nya, Jika masing – masing orang  memiliki dispenser sendiri – sendiri maka pembelian air gallon pun harus sendiri – sendiri. Dan tentunya itu akan membebani masing – masing penghuni kontrakan. Selain itu, secara segi kesehatan, Jika masing – masing orang mempunyai satu dispenser di dalam kamarnya. Maka, kemungkinan habisnya air gallon itu minimal satu minggu sekali. Lamanya air gallon yang ada di dalam dispenser , semakin lama akan menimbulkan lumut di dalam dispenser itu. Apalagi terkadang jika liburan masing -masing penghuni kamar meninggalkan dispenser dalam keadaan berisi gallon berbulan- bulan. Bisa kita bayangkan betapa lumutannya dispenser itu. Apalagi kalau kepemilikan dispenser itu sendiri – sendiri, maka biasanya kita malas untuk membersihkan dispenser. Tentunya itu akan merugikan kita secara kesehatan.
      Setelah kita semua menyadari hal – hal di atas , terutama karena di sebabkan factor keuangan, maka kita semua bersepakat untuk menggunakan satu dispenser saja dalam kontrakan. Sehingga dalam pembelian galonnya pun kita patungan. Walaupun galonnya lebih capat habis dalam tiga hari saja. Tapi setidaknya uang yang di keluarkan dalam pembelian gallon tidak semahal seperti dulu. Karena biasanya seminggu itu menghabiskan sebelas ribu (11. 000) . namun kalau patungan. Seminggu hanya menghabiskan lima ribu rupiah ( Rp 5000). Lebih irit 50 persen tentunya. Dan pemakaian listik pun kembali normal lagi. Dan untuk membersihkan gallon kita semua bisa saling mengingatkan dan mengerjakannya secara bersamaan. Sehingga kesehatan kita tetap terjaga dalam urusan meminum.
      Dari paparan di atas dapat kita lihat betapa keinginan pribadi menghasilkan banyak kerugian yang di terima secara pribadi dan bersama. Dimana keinginan pribadi itu ialah menggunakan dispenser secara pribadi di kamar masing-masing untuk sebuah kemudahan. Dan  kerugian secara pribadi tentunya dalm hal keuangan dan kesehatan. Dan kerugian bersama dalam hal penggunaan listrik. dan Itulah yang kita sebut sebuah contoh tragedy of commons.



















Tidak ada komentar: